[Jewish War](1.21) Kota-Kota Megah, Kemewahan Tanpa Batas, dan Kebesaran Herodes
Pada tahun kelima belas masa pemerintahannya, Herodes memulai proyek yang akan dikenang sepanjang masa—ia membangun kembali Bait Suci. Tanah di sekitarnya diperluas dua kali lipat dari sebelumnya dan dikelilingi tembok yang kokoh. Biaya yang ia keluarkan luar biasa besar, menunjukkan betapa tak terbatasnya kekayaan kerajaan ini. Di sekitar Bait Suci, ia mendirikan biara-biara megah dari pondasi, dan memperbaiki benteng di sisi utara dengan biaya yang juga luar biasa. Benteng itu ia beri nama Antonia, untuk menghormati sahabatnya Antonius. Di Kota Atas, ia membangun istana mewah dengan dua aula raksasa yang keindahannya bahkan mampu menandingi Bait Suci. Satu aula dinamai Kaisareum, satu lagi Agrippium, masing-masing untuk menghormati dua sahabatnya yang paling dekat.
Herodes tak hanya mengenang sahabat-sahabatnya lewat bangunan di Yerusalem. Di Samaria, ia membangun tembok indah sepanjang dua puluh furlong, memindahkan enam ribu penduduk ke sana, dan memberikan tanah paling subur. Di tengah kota itu, ia mendirikan kuil agung untuk Kaisar, dikelilingi tanah suci seluas tiga furlong setengah. Kota itu ia beri nama Sebaste, diambil dari gelar kehormatan Kaisar Augustus, dan ia mengatur pemerintahan kota itu dengan sangat teratur.
Setelah mendapat wilayah tambahan dari Caesar, Herodes membangun kuil marmer putih di dekat mata air Sungai Yordan. Tempat itu disebut Panium—puncak gunung yang menjulang, dengan sebuah gua gelap di kaki tebing. Di dalamnya, ada jurang dalam yang dipenuhi air, tak tergoyahkan, dan tak ada tali yang cukup panjang untuk mengukur kedalamannya. Dari sanalah, menurut banyak orang, Sungai Yordan memulai alirannya.
Di Yerikho, antara benteng Cypros dan istananya, Herodes membangun tempat-tempat indah bagi para pelancong, menamainya sesuai nama teman-temannya. Tak ada satu pun wilayah di kerajaannya yang dibiarkan tanpa penghormatan kepada Kaisar. Bahkan setelah memenuhi negerinya dengan kuil, ia masih membangun banyak kota lain yang ia sebut Kaisarea.
Ada satu proyek yang menjadi mahakarya: membangun kembali Menara Strato di tepi laut. Lokasinya strategis, tapi rusak parah. Herodes membangunnya kembali dari batu putih, menghiasinya dengan istana megah, dan menciptakan pelabuhan raksasa di wilayah yang sebelumnya tak punya tempat berlabuh. Pantai antara Dora dan Yope dulu sangat berbahaya bagi pelaut. Ombak ganas menghantam batu-batu, memaksa kapal untuk terombang-ambing di laut terbuka. Herodes menantang alam—menciptakan pelabuhan lebih besar daripada Pyrecum di Athena.
Pekerjaan ini luar biasa sulit. Ia menurunkan batu-batu raksasa ke dalam air sedalam dua puluh depa—batu sepanjang lima puluh kaki, setinggi sembilan kaki, selebar sepuluh kaki. Setelah pelabuhan terisi, ia membangun tembok selebar dua ratus kaki. Bagian luar diberi Procumatia, pemecah ombak raksasa, dan di atas tembok berdiri menara-menara besar. Menara terindah disebut Drusium, untuk menghormati Drusus, menantu Caesar.
Pelabuhan ini punya banyak gapura, dermaga luas, dan pintu masuk di sisi utara agar aman dari angin kencang. Di mulut pelabuhan, berdiri enam patung kolosal di atas pilar-pilar batu. Kota ini dibangun dengan jalan-jalan rapi mengarah ke pelabuhan, dan di bukit seberang, ia mendirikan kuil megah untuk Kaisar, berisi patung Caesar setinggi Colossus Jupiter Olympius, dan patung Roma setara Colossus Juno di Argos. Herodes menamakan kota itu Caesarea, menghormati Kaisar, dan pelabuhannya ia persembahkan bagi para pelaut.
Selain itu, ia membangun amfiteater, teater, dan pasar besar. Ia menetapkan pertandingan lima tahunan bernama Pertandingan Kaisar, dengan hadiah besar, bahkan bagi pemenang kedua dan ketiga. Ia membangun kembali Anthedon yang hancur, menamainya Agrippeum, dan mengukir nama Agripa di gerbang Bait Suci.
Sebagai tanda cinta kepada keluarganya, ia membangun kota Antipatris untuk mengenang ayahnya, sebuah kota yang dikelilingi sungai dan pepohonan. Benteng di Yerikho ia persembahkan untuk ibunya dan menamainya Cypros. Menara besar di Yerusalem ia namai Phasaelus untuk mengenang saudaranya, dan sebuah kota lain ia beri nama Phasaelis.
Untuk dirinya sendiri, Herodes membangun Herodium, benteng megah di atas bukit buatan yang menjulang enam puluh furlong dari Yerusalem. Bukit itu ia bentuk menyerupai dada perempuan, dihiasi menara bundar dan istana mewah. Air segar dibawa dari jauh, dan 200 anak tangga marmer putih mengarah ke puncak. Di kaki bukit, ia membangun kompleks istana besar sehingga benteng ini tampak seperti kota sendiri.
Kemurahan hatinya melampaui batas kerajaannya. Ia membangun istana latihan di Tripoli, Damaskus, dan Ptolemais, tembok di Byblus, pasar di Berytus dan Tirus, teater di Sidon dan Damaskus, saluran air di Laodikia, pemandian megah di Askalon, bahkan memberi tanah dan hutan untuk kota-kota tertentu. Ia memberikan gandum bagi yang lapar, kapal untuk Rhodes, dan membangun kembali kuil Apollo yang terbakar. Kota-kota Yunani seperti Athena, Sparta, Nikopolis, Pergamus, hingga Antiokhia mendapat sumbangannya. Bahkan ia melapisi lapangan terbuka Antiokhia sepanjang dua puluh furlong dengan marmer mengkilap.
Namun, hadiah terbesar ia berikan kepada kota Elea. Olimpiade kuno hampir punah karena kekurangan dana, tapi Herodes hadir sebagai pejuang dan pendonor tetap. Ia menjamin Olimpiade akan terus hidup selamanya. Ia juga membebaskan kota-kota dari pajak dan utang, seperti Phasaelis, Batanea, dan wilayah kecil di Kilikia.
Herodes sendiri adalah sosok luar biasa. Bertubuh kuat, ia pemburu ulung dan ahli menunggang kuda. Dalam satu hari, ia bisa menangkap empat puluh binatang buas. Ia juga petarung tangguh, mahir melempar lembing dan memanah tepat sasaran. Keberuntungan berpihak padanya—jarang kalah perang, dan jika kalah, itu karena pengkhianatan atau kelalaian tentaranya, bukan kelemahannya.

Komentar
Posting Komentar